Minggu, 02 Mei 2021

BUDAYA BIROKRASI DI INDONESIA

 

BUDAYA BIROKRASI PUBLIK DI INDONESIA

Oleh :

Roudhotul Jannah

Nim : 192020100096

Program Studi Administrasi Publik

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

 

PENDAHULUAN

            Sebagai diatur dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa tujuan negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjaga ketertiban dunia. Sejalan dengan hal tersebut untuk mewujudkan tujuan negara memerlukan birokrasi yang baik sebagai instrumen untuk menyelenggarakan pemerintahan negara yang baik sehingga terhindar dari adanya inefisiensi dan inefektivitas pemerintahan.

            Budaya birokrasi merupakan sebuah sistem atau seperangkat nilai yang memiliki simbol, orientasi nilai, keyakinan, pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang terinternalisasi ke dalam pikiran. Seperangkat nilai tersebut diaktualisasikan dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang dilakukan oleh setiap anggota sebuah organisasi yang dinamakan birokrasi (Dwiyanto, dkk, 2002).

            Organisasi birokrasi pemerintahan merupakan organisasi garis terdepan (street level bureaucracy) yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Budaya Birokrasi yang baik di pemerintahan menjadi penting, guna memberikan pelayanan jasa yang prima kepada publik (masyarakat). Menurut Siagian Budaya organisasi (birokrasi) adalah kesepakatan bersama tentang nilai-nilai bersama dalam kehidupan organisasi dan mengikat semua orang dalam organisasi yang bersangkutan (Siagian, 1995). Oleh karena itu budaya organisasi birokrasi akan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para anggota organisasi yaitu menentukan batas-batas normatif perilaku anggota organisasai, menentukan sifat dan bentuk-bentuk pengendalian dan pengawasan organisasi, menentukan gaya manajerial yang dapat diterima oleh para anggota organisasi, menentukan cara-cara kerja yang tepat, dan sebagainya.

Secara spesifik peran penting yang dimainkan oleh budaya organisasi (birokrasi) adalah membantu menciptakan rasa memiliki terhadap organisas, menciptakan jati diri para anggota organisasi, menciptakan keterikatan emosional antara organisasi dan pekerja yang terlibat didalamnya, membantu menciptakan stabilitas Organisasi sebagai sistem sosial, dan menemukan pola pedoman perilaku sebagai hasil dari norma-norma kebiasaan yang terbentuk dalam keseharian.

Pengaruh budaya organisasi (birokrasi) terhadap perilaku para anggota organisasi sangat kuat, maka budaya organisasi (birokrasi) mampu menetapkan tapal batas untuk membedakan dengan organisasi (birokrasi) lain, mampu membentuk identitas organisasi dan identitas kepribadian anggota organisasi, mampu mempermudah terciptanya komitmen organisasi daripada komitmen yang bersifat kepentingan individu, mampu meningkatkan kemantapan keterikatan sistem sosial, dan mampu berfungsi sebagai mekanisme pembuatan makna dan simbol-simbol kendali perilaku para anggota organisasi. Dalam perekrutan pegawai tidak jarang ditemukan dalam perekrutan suatu jabatan yang didasarkan pada pertimbangan like and dislike pimpinan serta masih melekatnya budaya paternalisme. Praktek birokrasi yang berbelit-belit, ditambah dengan maraknya pungutan liar yang dilakukan sejumlah oknum pemerintah, aparat masyarakat, mengakibatkan masyarakat pengguna layanan publik kurang mempercayai aparat birokrasi.

            Budaya organisasi (birokrasi) yang kuat ditentukan oleh faktor yaitu : Penyebaran nilai-nilai budaya secara efektif sehingga anggota organisasi mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi, Tingkat komitmen anggota organisasi terhadap inti dari nilai-nilai yang ada (core values), Perubahan budaya organisasi (Susanto ,1992). Ketika sebuah birokrasi publik menghadapi situasi lingkungan yang berbeda dengan cara lama atau dengan dengan cara yang sama sekali baru. Wilson menyebutkan ada tiga faktor yang mempengaruhi perilaku ini yaitu sikap anggotanya, teknologi organisasi dan tindakan-tindakan penting yang dilakukan pada situasi tertentu.

            Kenyataannya interaksi individu-individu (pegawai) dengan organisasi yang menggambarkan situasi problematis budaya birokrasi di pemerintahan, masih ditemukan adanya tradisi dan tata pergaulan yang bersifat paternalisme, misalnya dihadapan pimpinan dinas, seorang aparat bawahan sulit untuk menunjukan penolakannya atas suatu ide atau gagasan pimpinan. Kadang kala penolakan atas ide pimpinan secara terbuka dapat berarti membuka konflik antara pimpinan dan bawahannya. Bahkan, kendala yang dihadapi dalam rangka peningkatan profesionalisme aparatur adalah inovasi dan kreativitas aparat birokrasi masih relatif rendah. Misalnya jika Pimpinan melakukan Tugas (dinas) Luar, maka ada anggapan bahwa tugas dan tanggung jawab yang ada pada bawahan dapat ditunda pelaksanaannya atau dengan kata lain bawahan selalu menunggu pimpinan kembali untuk meminta petunjuk kepada pimpinan terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya sehingga pelaksanaan tugas bawahan senantiasa harus dalam pengawasan langsung pimpinan, ditambah lagi kecenderungan pengerjaan tugas yang mudah saja dan yang mendatangkan uang.

PEMBAHASAN

Budaya birokrasi di Indonesia

            Budaya dipelajari sebagai bagian dari sistem organisasi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, budaya dilihat sebagai sesuatu yang hidup di suatu organisasi yang mengikat semua anggota organisasi dalam upaya mencapai tujuan bersama. Budaya juga dapat dilihat sebagai bagian dari suatu lingkungan organisasi yang mempengaruhi perilaku dan penampilan (performance) organisasi. Heterogenitas masyarakat yang sangat besar memiliki sistem nilai dan norma budaya masing-masing. Keunikan kebudayaan itu biasanya menjadi acuan berpikir dan pegangan untuk bertindak, sehingga hal ini sangat berpengaruh pada sikap hidup dan pola perilaku dalam masyarakat. Budaya adalah perilaku konvensional masyarakat dan ia mempengaruhi semua tindakan meskipun sebagian besar tidak disadarinya. Budaya memberikan stabilitas dan jaminan, karena dapat memahami hal-hal yang sedang terjadi dalam masyarakat dan mengetahui cara menanggapinya. Sebagai contoh dapat dilihat apabila seorang pegawai pindah ke tempat kerja yang lain. Dalam lingkungan yang baru pegawai dituntut untuk perlu belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi untuk menghindari kemungkinan akan terjadi konsekwensi negatif.

Menurut Thoha (1993) budaya birokrasi menekankan bahwa aparat pelaku birokrasi dalam menjalankan tugas-tugasnya terpisah dengan kepemilikian atas fasilitas dan sarana publik. Dalam artian harus dibedakan antara milik pribadi dan milik publik. Namun aparat birokrasi pemerintah belum sepenuhnya melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi yang dibebankan kepadanya berdasarkan norma-norma yang ditetapkan dan diharapkan oleh masyarakat. Nilai-nilai dasar budaya kerja yang perlu ada pada aparatur birokrasi atau pegawai negeri sipil antara lain adalah : komitmen dan konsistensi, wewenang dan tanggung jawab, keikhlasan dan kejujuran, integritas dan profesionalisme, kreativitas dan kepekaan, kepemimpinan dan keteladanan, kebersamaan dan dinamika kelompok kerja, ketepatan atau keakuratan dan kecepatan, rasionalitas dan kecerdasan emosi, keteguhan dan ketegasan, disiplin dan keteraturan kerja, keberanian dan kearifan, dedikasi dan loyalitas, semangat dan motivasi, ketekunan dan kesabaran, keadilan dan keterbukaan (Kementerian PAN, dalam Sedarmayanti, 2009).

            Menurut Emmerson dan Lance casttle, Liddle, secara kultural birokrasi Indonesia sudah mencerminkan ciri-ciri modern, namun perilakunya masih dipengaruhi dan memperlihatkan karakteristik patrimonal dimana jabatan-jabatan dan keseluruhan hierarki birokrasi masih masih didasarkan hubungan personal. Budaya birokrasi harus berorientasi pada kepuasan masyarakat yang majemuk dan mengubah pola pikir aparat untuk kembali kepada fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Pelayanan publik sebagai suatu proses kinerja birokrasi, keterikatan dan pengaruh budaya organisasi sangatlah kuat. Dengan kata lain, apapun kegiatan yang dilakukan oleh aparat birokrasi haruslah berpedoman pada rambu-rambu aturan normatif yang telah ditentukan oleh organisasi publik sebagai perwujudan dari budaya organisasi publik.

Di Indonesia, sebelum adanya proses reformasi terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan kinerja birokrasi, seperti terdapat kelambanan dalam pelayanan publik, adanya masalah suap dalam pelayanan izin, proses administrasi yang berbelit-belit, struktur organisasi yang gemuk yang cenderung tidak efisien, bahkan boros dalam pengelolaan anggaran. Semua permasalahan itu disebut sebagai patologi (penyakit) birokrasi. Patologi birokrasi di Indonesia, nampaknya sudah termasuk dalam kategori sangat parah, karena telah menjankiti semua level dalam organisasi pemerintahan (eksekutif, legislatif dan yudikatif), baik di tingkat pusat, maupun di tingkat daerah, implikasinya adalah kinerja birokrasi dalam pelayanan publik belum memberikan kepuasan (satisfaction) kepada masyarakat. Di Indonesia perubahan yang terjadi dalam birokrasi sangat lambat, jika dibandingkan dengan organisasi bisnis. Dari semua unsur dalam birokrasi yang  paling sulit berubah adalah aspek SDM-nya, karena mindset yang sudah terbentuk sekian lama, sehingga sudah sulit untuk menerima perubahan.

Perilaku birokrat yang cenderung melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin mengerucutkan image negatif birokrasi publik di masyarakat dan menumbuhkan rasa ketidakpercayaan masyarakat kepada para pelaku birokrasi.

            Ada beberapa kendala yang berkaitan dengan kultur dan tradisi yang ada dalam kinerja birokrasi. Mentalitas pegawai adalah keadaan mental, (pikiran/ rohani/batin/jiwa), watak, tabiat atau metode berpikir yang dimiliki aparat yang mempengaruhi pola kerja melalui hubungannya dengan lingkungan dimana ia bekerja.  Pola tindak, pola pikir aparat dalam melaksanakan pekerjaan ditempat di mana ia bekerja, dapat mendorong aparat birokrasi bekerja secara optimal.

            Birokrasi di Indonesia di pengaruhi oleh budaya kultural yang hidup di Indonesia dan Budaya politik yang berkembang di Indonesia yaitu dengan simbol primordial. Walaupun demikian birokrasi di Indonesia dipengaruhi juga oleh paham Idelogi yang hidup didunia seperti kapitalis,komunis serta liberal dan Chauvinisme (Kuturunan). Budaya birokrasi penting untuk dibangun dan dikembangkan agar mampu memberi petunjuk, menginspirasi dan mendorong perubahan menuju pada pencapaian visi dan misi birokrasinya. Dan mengubah budaya birokrasi dapat dilakukan dengan membebaskan para pejabat publik dari belenggu penyakit birokrasi.

            Budaya birokrasi di Indonesia akan terwujud dengan baik bila dibangun mindset and culture yang meliputi pengembangan budaya kerja, aktualisasi nilai-nilai budaya kerja, internalisasi dan actualisasi prinsip good governance. Dan yang paling penting juga ada fleksibilitas dan memperhatikan hubungan dengan lingkungan disekitaranya sesuai dengan nilai-nilai budaya yang hidup di Indonesia yaitu nilai religiusme, adat istiadat dan Kebudayaan.

KESIMPULAN

Budaya birokrasi di Indonesia hingga saat ini masih dipengaruh oleh budaya lama yang berjalan di Indonesia. Budaya birokrasi patrimonial masih sangat mewarnai birokrasi pelayanan publik di Indonesia. Sistem tindakan yang terpola dalam menghadapi warganegara antara organisasi pemerintah satu dengan yang lain akan berbeda sesuai dengan budaya organisasinya. Pada organisasi yang patrimonial, pola pelayanan akan sangat berorientasi pada pelayan dan bukan pada pelanggan. Yang menarik selain, secara internal budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku birokrat, tetapi juga lingkungan politik yang melingkupinya. Birokrasi di Indonesia yang berkaitan dengan pelayanan publik pada umumnya belum memberi dampak positif yang signifikan terhadap perbaikan perilaku birokrat dan kualitas pelayanan publik. Dari segi perilaku birokrat terdapat kecenderungan makin meningkat perilaku yang menyimpang antara lain terjadinya penyalahgunaan wewenang, seperti kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dalam pelayanan perizinan. Dalam hal pelayanan publik meskipun ada perubahan ke arah yang lebih baik dengan penerapan teknologi informasi (IT) dalam pelayanan publik, namun masih terdapat sejumlah keluhan pelanggan seperti pelayanan lambat, berbelit-belit, mahal dan tidak ada kepastian waktu penyelesaian pun tidak rama. Karenanya perlu dilakukan inovasi dalam penciptaan budaya dalam birokrasi.

 

 

REFERENSI

Achmad, N. (n.d.). Perilaku Birokrasi Publik Di Indonesia : Sebuah Kajian Teoritis.

Djumiarti, T. (n.d.). Peran Budaya Birokrasi Dalam Pengembangan Tata Kelola Pemerintahan Yang baik ( Good Governance).

Haning, M. T. (2018). Reformasi Birokrasi di Indonesia Tinjauan Dari Prespektif Administrasi Publik , vol 4 No. 1.

Maulana, D., & Muhammad Tohir, S. (2016). Budaya Birokrasi Di Indonesia .

Umaternate, R., & DKK. (n.d.). Pengaruh Budaya Birokrasi Terhadap Efektivitas Kerja Pegawai Negara Sipil .

Yusrialis. (n.d.). Budaya BIrokrasi Pemerintahan (Keperihatinan dan Harapan).

 


#KuliahKerendiAdministrasiPublikUMSIDAaja 

#BanggaAPUMSIDA

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar